Pengungkapan perasaan dengan akun fake
Aku tidak tahu
harus memulainya dari mana. Sungguh! J
Ini
kisah tentang asmara, yang sangat perlu untuk di tertawakan. Itu menurutku.
Awalnya aku sama sekali tidak berani untuk bertegur sapa dengannya. Selama
bertahun-tahun dan bahkan tahun dimana aku masih bisa melihatnya setiap hari.
Kini sudah berlalu. Lima tahun lamanya.
Tiba
suatu malam, aku teringat akan dirinya, yang entah kenapa hal itu terjadi
begitu saja. Seperti biasa aku stalker
media sosialnya dan berujung mengenaskan. Rinduku semakin dalam untuknya. Aku
membaca sebah buku yang berjudul “Sebuah seni untuk bersikap bodo amat” energi
dari buku ini mendorongku untuk melakukan sesuatu. Melakukan hal gila. Kalau
aku berpikir ribuan kali.
Ya,
aku mengatakan perasaanku pada pria itu. Secara blak-blakan dan
terang-terangan. Awalnya aku ingin mengirimkan surat padanya lewat kantor pos,
tapi aku tidak tahu alamatnya. Sekedar menanyakan kabar saja, itu permulaan yang baik
menurutku. Tapi, tidak jadi. Aku benar tidak tahu alamatnya.
Lantas
aku mengirimkan semua isi suratku itu pada pria yang aku maksud lewat aku
sosial medianya. Berhari-hari setelah aku
kirim pesan itu. Dia sama sekali tidak membacanya. Hatiku
semakin ragu, lantas aku kembali membatalkan pesan itu. Pada akhirnya aku
kembali melanjutkan membaca buku “Sebuah seni untuk bersikap bodo amat”, entah
kenapa dorangan ingin memberitahu kepada pria itu semakin kuat. Lantas aku
kembali menulis pesan padanya.
Berhari-hari
tidak di baca juga. Akhirnya aku memberanikan mengirim pesan singkat pada
temannya yang setiap hari aktif di sosial media. Temannya sangat baik dan
meresponku dengan sopan. Aku meminta temannya untuk memberitahukan pria yang
kusuka untuk sekali saja membuka sosial medianya. Lantas temannya langsung
memberi tahu pria itu.
Berjam-jam
aku menunggu, benar. Ternyata pria yang aku sukai itu sedang aktif di media
sosialnya dan sudah membaca pesanku itu. Sesungguhnya itu adalah pesan
perasaanku padanya. Aku terkejut membaca balasannya. Terharu, bahagia,
menangis. Semua rasa bercampur aduk. Secara halus, dia menolak. Secara keras
dan tajam. Dia memotivasiku.
Aku
bahkan sangat mengagumi kata-katanya hingga saat ini, “Set your goal, prepare your plan and always improve your self.”
Sejak
saat itu. Aku berjuang untuk lebih baik dari hari sebelumnya. Aku tidak tahu
apa yang akan terjadi dengan hidupku jika aku tidak mengirim pesanku itu. Juga
pada awalnya aku juga tidak tahu akan apa yang akan terjadi pada hidupku
setelah dia membacanya.
Namun,
hal ini membuatku justru lebih baik lagi, lebih lega dari hari-hari yang lalu.
Aku menceritakan semua ini pada temanku. Awalnya aku ingin menyembunyikan
indetitas pria ini dari dia. Agar aku tidak malu akan penolakan ini. Namun,
naasnya aku mudah ditebak dan temanku tahu semua tentang kehidupan pria yang aku sukai itu.
Kata-kata
temanku ini kembali menampar
relung hatiku. “Tapi,,, kita kayaknya gak level orang kayak dia. Tau sendirilah
kau, mereka anak horka (orang kaya). Kita mah apa? Orang sederhana dari
kampng.”
Apapun
yang dikatakan temakku itu, benar adanya. Itu fakta real. Memang berat rasanya, tapi aku harus terima itu. Ya, itu lah
hidup. Meskipun kita sudah berencana. Sesungguhnya
kita tidak tahu apa-apa dan kita tidak tahu apa yang akan terjadi.
Perlu
kamu tahu, sampai sekarang pria yang aku sukai itu tidak mengetahui siapa aku,
siapa identitasku. Sebab sebenarnya, aku mengirim pesan itu lewat aku fake. Hahahah... itu kenyataan yang
buruk. Wajar dia melolak sebab dia tidak tahu siapa wanita gila yang
mengirimnya pesan sinting seperti itu. Hahaha....
Entah
suatu hari nanti dia tahu
atau enggak, tapi yang
pasti, aku benar lega atas responya yang baik yang membuat aku lebih menghargai
hidup.
Aku hanya
belajar satu hal dari kejadian ini, bahwa mengungkapkan perasaan itu, lantas
tidak menjadikanmu menjadi orang yang benar-benar buruk. Aku berhasil
mengungkapkan semuanya walau pada dasarnya tidak menunjukkan identitas diriku
sebenarnya. Pada dasarnya yang mendorong semua ini adalah rasa ingin tahuku
atas jawaban pria yang aku sukai.
Jika kamu
mengalami nasip serupa denganku, mengagumi seseorang dan tidak berani
memeberitahunya. Tidak ada salahnya kamu mengungkapkannya saat orang itu masih
bisa kamu temui. Jangan takut atas penolakan. Setidaknya pikirkan saja. Bukan
hanya kamu yang pernah gagal di dunia ini.
Sekian cuap-cuap
saya hari ini.
Comments
Post a Comment